Proyek sumber daya nikel QMB telah menyelesaikan tahap komisioning dan peningkatan kapasitas, serta memasuki tahap produksi komersial. Produk yang dihasilkan memenuhi spesifikasi mutu yang ditetapkan untuk kebutuhan industri pengolahan nikel berbasis hidrometalurgi. Proyek ini dirancang, diuji, dan dioperasikan oleh perusahaan dengan pendekatan mandiri sesuai dengan kebutuhan operasional di Indonesia.
Proyek ini dikembangkan dengan mengintegrasikan aspek proses produksi, pengelolaan lingkungan, dan efisiensi operasional. Bijih nikel laterit dimanfaatkan secara langsung sebagai bahan baku untuk menghasilkan material antara dan bahan energi baru, sehingga membentuk alur pengolahan dari bijih hingga produk hilir berbasis nikel.
Dalam perencanaan dan pengembangan jangka menengah dan panjang, proyek ini memiliki beberapa karakteristik utama. Pertama, pemanfaatan bijih nikel laterit berkadar rendah (0,8%–1,3%) untuk mendukung optimalisasi pemulihan sumber daya. Bijih tersebut tidak diproses melalui jalur pirometalurgi, melainkan melalui proses hidrometalurgi HPAL, sehingga nikel, kobalt, dan mangan dapat dipulihkan secara lebih menyeluruh. Pendekatan ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon dibandingkan dengan proses pirometalurgi konvensional.
Kedua, proyek dirancang dengan kapasitas produksi yang terukur dan rantai pengolahan yang terintegrasi. Pada tahap pengembangan penuh, fasilitas ini direncanakan untuk memproduksi sekitar 73.000 ton logam nikel, 7.000 ton logam kobalt, dan 10.000 ton logam mangan per tahun, serta produk turunan seperti kristal nikel sulfat, kobalt sulfat, dan mangan sulfat sebagai bahan baku energi baru. Selain itu, terdapat rencana pengembangan lanjutan untuk mendukung produksi bahan prekursor terner.
Ketiga, peralatan yang digunakan dalam proyek ini digunakan sesuai dengan standar teknis dan operasional yang berlaku. Kelima, proyek ini memperhatikan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola melalui pengelolaan lingkungan, penataan kawasan, serta penyediaan fasilitas pendukung bagi pekerja. Museum Industri Nikel yang berada di kawasan proyek berfungsi sebagai sarana edukasi publik mengenai sejarah dan pemanfaatan sumber daya nikel.
Sistem operasional didukung oleh pemantauan proses produksi dan manajemen data untuk mendukung kegiatan operasional sehari-hari. Fasilitas pendukung, termasuk ruang ibadah, disediakan untuk mengakomodasi kebutuhan pekerja dengan latar belakang yang beragam. Pada kapasitas desain, proyek ini diproyeksikan menyerap lebih dari 3.000 tenaga kerja lokal.
Pada 14 Januari 2023, pengiriman perdana produk MHP sebanyak 1.200 ton telah dilaksanakan. Kegiatan ini menandai dimulainya distribusi produk hasil pengolahan serta menjadi bagian dari tahapan operasional proyek dalam mendukung pasokan bahan baku nikel untuk kebutuhan industri hilir.
